Just another WordPress.com site

Latest

Taksonomi Phanerogamae (deskripsi tanaman yang di bawa)

Nama : Ria Yuliyanti

NPM : 140410080073

Deskripsi tanamaman yang di bawa:

1.      Kenanga (Cananga odorata) (Lam.) Hook.f. & Thomson)

Klasifikasi

Kingdom         Plantae

Divisi               Magnoliophyta

Class                Magnoliopsida

Ordo                Magnoliales

Family             Annonaceae

Genus              Cananga

Species            Cananga odorata (Lam.)Hook.f. & Thomson

Deskripsi

Kenanga (Canangium odoratum) adalah tumbuhan berbatang besar sampai diameter 0,1-0,7 meter dengan usia puluhan tahun. Tumbuhan kenangan mempunyai batang yang getas (mudah patah) pada waktu mudanya. Tinggi pohon ini dapat mencapai 5-20 meter. Bunga kenanga akan muncul pada batang pohon atau ranting bagian atas pohon dengan susunan bunga yang spesifik. Sebuah bunga kenanga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning serta dilengkapi 3 lembar daun berwarna hijau. Susunan bunga tersebut majemuk dengan garpu-garpu. Bunga kenanga beraroma harum dan khas. Di pedesaan, kenanga sering dipelihara untuk dipetik bunganya. Tumbuhan liar yang kini mulai jarang ini mudah tumbuh di daerah dataran rendah mulai ketinggian 25-1000 meter di atas permukaan laut.

Nama Lokal :
Kenanga (Indonesia), Kenanga, Wangsa (Jawa); Kananga (Sunda), Sandat kananga, Sadat wangsa (Bali); Selanga (Aceh), Sandat (Sasak), Ngana-ngana (Nias); Lalangiran, amok, wungurer, pum-pum, luit (Minahasa).

Khasiat bunga kenanga

Bunga kenanga mengandung minyak atsiri, yang dikenal dengan nama minyak kenanga, yang mempunyai khasiat dan bau yang khas. Hasil penelitian mereka menunjukkan, ekstrak bunga kenanga memiliki kemampuan menolak nyamuk karena adanya kandungan linalool, geraniol, dan eugenol. Hasil penelitian menunjukkan, ketika mengoleskan ekstrak bunga kenanga pada marmut, maka minyak atsiri yang terkandung dalam ekstrak bunga kenanga meresap ke pori-pori lalu menguap ke udara. Bau ini akan terdeteksi oleh reseptor kimia (chemoreceptor) yang terdapat pada tubuh nyamuk dan menuju ke impuls saraf. Itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam otak sehingga nyamuk akan mengekspresikan untuk menghindar tanpa mengisap darah marmut lagi. Semakin banyak kandungan bahan aktif yang terdapat dalam ekstrak bunga kenanga, maka semakin besar kemampuan ekstrak tersebut menolak nyamuk.

2.      Kemangi (Ocimum basilicum L.)

Klasifikasi

Kingdom         Plantae

Divisi               Magnoliophyta

Class                Magnoliopsida

Ordo                Lamiales

Family             Lamiaceae

Genus              Ocimum

Spesies            Ocimum basilicum Vis

 

Deskripsi

Herba tegak, sangat harum; tinggi 0,3-0,6 m. Batang sering keunguan, caranya berambut berubah-ubah. Tangkai daun 0,5-2 cm; helaian daun bulat te;ur ellips, ellips atau memanjang, dengan ujung runcing, berbintik-bintik serupa kelenjar, pada sebelah menyebelah ibu tulang 3-6 tulang cabang, 3,5-7,5 kali 1,5-2,5 cm. Karangan semu berbunga 6, berkumpul menjadi tandan ujung. Daun pelindung ellips atau bulat telur, panjang 0,5-1 cm. Klopak sisi luar berambut rapat, lk 0,5 cm panjangnya; gigi belakang jorong sampai bulat telur terbalik, dengan tepi mengecil sepanjang tabung; gigi samping kecil dan runcing; kedua gigi bawah berlekatan menjadi bibir bawah yang bercelah 2. Mahkota berbibir 2, panjang 8-9 mm, dari luar berambut; bibir atas bertaju 4; bibir bawah rata. Tangkai dari kelopak bawah tegak dan tertekan pada sumbu dari karangan bunga, dengan ujung bentuk kulit melingkar, seolah-olah duduk dengan mulut yang terarah miring merendah. Kelopak buah 6-9 mm panjangnya. Buah keras coklat tua, gundl, watu dibasahi membengkak sekali, sering ditanam. Lebih sering menjadi liar; 1-450m. Tepi jalan dan tepi kebun, dsb. Tanaman sangat berubah-ubah!

Nama lokal:

Selasi,Ind, S, Surawung, S, Kemangi, J, Telasih, J

Kandungan kimia: Eugenol; Sineol; Metilkhavikol; Protein; Kalsium

Manfaat Dalam Kehidupan Sehari-hari

Daun Kemangi yang harum sering digunakan untuk masakan, antara lain; campuran pepes, karedok atau lalapan mentah. Selain  itu kemangi mengandung banyak senyawa yang berkhasiat bagi tubuh. Senyawa arginine didalamnya  terbukti mampu memperpanjang masa hidup sperma, mencegah kemandulan dan menurunkan kadar gula darah. Kemangi juga mengandung zat yang mampu merangsang produksi hormon androgen dan estrogen.

Manfaat kemangi masih sangat banyak, orientin dan vicenin di dalam kemangi mampu melindungi struktur sel tubuh. Sedangkan cineole, myrcene dan eugenol berfungsi sebagai antibiotik alami dan antiperadangan. Kemangi juga kaya akan betakaroten dan magnesium, mineral penting yang berfungsi menjaga dan memelihara kesehatan jantung.

Kemangi adalah salah satu tumbuhan sayuran yang mempunyai aroma yang khas. Apalagi kalau kita campur daunnya dipadukan sebagai pengharum dan penyedap sambal terasi.

Kandungan dan manfaat daun kemangi mempunyai daya penenang dan mengeluarkan gas-gas dari tubuh. Daunnya juga sering dipakai untuk bumbu hidangan daging ataupun ikan. Kemangi juga mengandung zat minyak atsiri, protein, kalsium, fosfor, besi, belerang, dan lain-lain.

3.      Elaeocarpus grandiflorus (J.E.Smith) (Anyang-anyang)

Klasifikasi

Kingdom         Plantae

Divisi               Magnoliophyta

Class                Magnolopsida

Ordo                Malvales

Family             Elaeocarpaceae

Genus              Elaeocarpus

Species            Elaeocarpus grandiflorus J.E Smith

Deskripsi

Pohon dengan bentuk etage; tinggi 6-26 m. Daun bertangkai, berjejal pada ujung ranting, bentuk lanset, beralih demi sedikit pada tangkai, 5-20 kali 1-5 cm, gundul, seperti kulit, bergerigi beringgit tidak dalam; yang tua merah api. Tandan bunga menggantung, berbunga 4-6, panjang 2-10 cm. Tangkai bunga 3-4,5 cm. Daun kelopak merah cerah, berambut. Daun mahkota putih, pada pangkalnya dengan sisik, ke arah ujung melebar sekali dan terbagi dalam taju, panjang; 2-2,5 cm. Dasar bunga kuning, kemudian oranye. Tonjolan dasar bunga berambut halus (seperti bulu anak ayam) rapat. Benang sari seluruhnya berambut. Bakal buah bentuk telur, berambut; kepala putik tidak melebar. Buah bentuk spul, hijau pucat, panjang lk 3 cm. Di hutan di pinggir air, di bawah 500 m; sebagai pohon hias di kebun dan park.

Nama lokal:

Anyang, S, Rejasa, J

Cat. : Jika buah diinjak, maka duri tempel pada inti buah menembus dinding buah yang lunak dan menyebarlah biji tersebut sebagaiapa yang dinamakan „kotak duri” (hoefklitten). Bagian yang digunakan Buah, kulit kayu, dan daun. Kegunaan: Buah: Disentri, sakit kandung kencing. Kulit kayu: Radang Ginjal,  borok (obat luar). Daun: demam, kelesuan, mual, sakit kuning.

Kandungan kimia

Daun, buah dan kulit batang Elaeocarpus grandiflora mengandung saponin

dan flavonoida, di samping itu daun dan kulit batangnya juga mengandung

polifenol dan daun serta buahnya mengandung tanin.

Khasiat

Bagian yang digunakan Buah, kulit kayu, dan daun. Kegunaan: Buah: Disentri, sakit kandung kencing. Kulit kayu: Radang Ginjal,  borok (obat luar). Daun: demam, kelesuan, mual, sakit kuning.

 

4. Phylanthus urinaria Linn (Meniran)

Klasifikasi

Kingdom         Plantae

Divisi               Magnoliophyta

Class                Magnoliopsida

Ordo                Euphorbiales

Family             Phyllantthaceae

Genus               Phyllanthus

Spcies               Phyllanthus urinaria Linn

Deskripsi

Morfologi Meniran : Batang : Berbentuk bulat berbatang basah dengan tinggi kurang dari 50 cm. Daun : Mempunyai daun yang bersirip genap setiap satu tangkai daun terdiri dari daun majemuk yang mempunyai ukuran kecil dan berbentuk lonjong. Bunga : Terdapat pada ketiak daun menghadap kearah bawah. Syarat Tumbuh : Meniran tumbuhan berasal dari daerah tropis yang tumbuh liar di Hutan-hutan, ladang-ladang, Kebun-kebun maupun pekarangan halaman rumah, pada umumnya tidak dipelihara, karena dianggap tumbuhan rumput biasa. Meniran tumbuh subur ditempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

Nama Lokal :
Child pick a back (Inggris), Kilanelli (India), Meniran (Jawa); Zhen chu cao, Ye xia zhu (Cina), Gasau madungi (Ternate);

Sifat Kimiawi : Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, antara lain : lignan (Filantin, hipofilantin, nirantin, lintetratin), flavonoid (quercetin, quercitrin, isoquercitrin, astragalin, rutin, kaempferol-4, rhamnopynoside), alkaloid, triterpenoid, asam lemak (asam ricinoleat, asam linoleat, asam linolenat), vitamin C, kalium, damar, tanin, geraniin, phyllanthin dan hypophyllanthin.

 

Efek Farmakologis : Tumbuhan ini bersifat: astringent, peluruh air seni (menghambat pembentukan kristal kalsium oksalat), penurun panas, anti hepatotoksik, anti bakteri terhadap Escherichiacoli, staphylococcus aureus, bacillus subtilis, hipoglikemik. Ekstrak meniran dapat menghambat aldosereductase (AR) karena senyawa ellagic acidnya mempunyai daya hambat enam kali lebih kuat daripada quercitrin yang dikenal sebagai penghambat AR (proses reduksi aldose menjadi diabetes).  Dalam farmakologi Cina disebut tumbuhan ini memiliki rasa agak asam dan sejuk.

Manfaat meniran

Sakit kuning (lever), Malaria, Demam, Ayan, Batuk, Haid lebih; Disentri, Luka bakar, Luka koreng, Jerawat.

5.      Urtica dioica Linn (Jelatang ayam)

Klasifikasi

Kingdom         Plantae

Divisi               Magnoliophyta

Class                Magnoliopsida

Ordo                Rosales

Family             Urticaceae

Genus             Urtica

Species            Urtica dioica L.

 

Deskripsi

Herba abadi. Daun hijau lembut 3 cm, daun memiliki margin sangat bergerigi, dasar berbentuk hati dan ujung acuminate dengan gigi daun terminal lebih lama dari laterals berdekatan. Ini dikenakan bunga kecil 4-merous kehijauan atau kecoklatan inflorescences aksilaris padat. Daun dan batang sangat berbulu dengan rambut menyengat (trikoma)

Jelatang adalah tumbuhan yang daunnya berbulu (miang) yang dapat menyebabkan gatal pada kulit jika bersentuhan. Tumbuhan ini memiliki beberapa jenis. Ada yang berbatang, dan ada juga yang merambat. Jelatang memiliki daun berukuran kecil, tapi ada juga jelatang dengan daun lebar. Tumbuhan ini memiliki tinggi sekitar 10 cm sampai 1 m.

Di daerah Kedurang, Bengkulu Selatan, Bengkulu, tanaman ini dibedakan berdasarkan bentuk dan efek gatal yang ditimbulkannya. Untuk yang daunnya berukuran kecil, kira-kira memiliki lebar 5 cm, dinamakan jelatang ayam. Jelatang kambing, daunnya lebih lebar dan dengan tingkat efek gatal yang lebih. Ada juga jelatang kerbau, daunnya paling lebar dan tebal. Lebarnya dapat mencapai 30 cm. Jelatang jenis ini, dapat menyebabkan gatal yang baru sembuh hingga seminggu kemudian. Semua jenis jelatang biasa tumbuh di daerah dengan kelembaban yang tinggi.

Jelatang ayam- Urtica dioica

Analisis jelatang segar menunjukkan keberadaan asam format, lendir, garam mineral, amonia, asam karbonat dan air. Jelatang memiliki reputasi dalam jamu dan dianggap dalam homoeopati sebagai obat yang bermanfaat. Olahan dari rempah memiliki sifat zat dan bertindak juga sebagai tonik merangsang. Jelatang teh hangat tidak terasa seperti teh normal tidak pahit, dan itu salah satu minuman yang paling bergizi dari semua. Banyak manfaat yang memiliki tinggi mineral, terutama, kalsium, magnesium, besi, kalium, fosfor, mangan, silika, yodium, silikon, natrium, dan belerang. Mereka juga menyediakan klorofil dan tannin, dan mereka yang baik sumber vitamin C, beta-karoten, dan vitamin B kompleks. Mereka sepuluh persen protein, lebih dari sayuran lainnya.

Jelatang adalah anti-asma: jus dari akar atau daun, dicampur dengan madu atau gula, akan meredakan asma bronkial dan kesulitan dan daun kering, dibakar dan dihirup, akan memiliki efek yang sama. Jelatang teh kompres atau serbuk halus jelatang kering juga baik untuk luka, luka, sengatan, dan luka bakar. Dikatakan bahwa makan jelatang atau minum teh membuat rambut lebih cerah, lebih tebal dan shinier, dan membuat kulit lebih jelas dan lebih sehat, baik untuk eksim dan kondisi kulit lainnya.

Aromaterapi & Kesehatan: An ekspektoran, dianjurkan untuk asma, kondisi lendir dari paru-paru, dan batuk kronis.Jelatang memiliki pembersihan dan antiseptik

 

Refferensi:

Steenis,et al.2006.Flora.Pradnya Paramita.Jakarta

http://mahkotadewa.com/blog/2009/04/kemangi/

http://www.mfi.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=2

http://www.sith.itb.ac.id/herbarium/index.php?c=herbs&view=detail&spid=237291

http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku3/3-011.pdf

http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=18

http://www.tanaman-obat.com/gallery-tanaman-obat/174-tanaman-obat-meniran

http://anakcelanalipatselutut.blogspot.com/2010/03/3-cerita-tentang-jelatang.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Jelatang

laporan analisis vegetasi

ANALISIS VEGETASI DENGAN METODE KUADRAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktikum Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan

Disusun Oleh

Kelompok 8 :

Natassa W                                            140410080007

Dita Hardiansyah                                  140410080015

Yunia Rahma                                       140410080023

Siti Nurmalia                                        140410080030

Fidyaningrum Anandita                        140410080035

Aji Badrunsyah                                    140410080044

M Pratama                                            140410080051

Farida Safitri                                        140410080052

Ria Yuliyanti                                       140410080073

Aulia Nurmalasari P                             140410080082


 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.      Latar belakang

Metode kuadran umunya dilakukan bila vegetasi tingkat pohon saja yagng jadi bahan penelitiaan. Metode ini mudah dan lebih cepat digunan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menksir volumenya.

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis.

Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur. Selain itu dalam suatu ekologi hutan satuan yang akan diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit.

Ada berbagai metode yang dapat di gunakan untuk menganalisa vegetasi ini. Diantaranya dengan menggunakan metode kuadran atau sering disebut dengan kuarter.  Metode ini sering sekali disebut juga dengan plot less method karena tidak membutrhkan plot dengan ukuran tertentu, area cuplikan hanya berupa titik. Metode ini cocok digunakan pada individu yang hidup tersebar sehingga untuk melakukan analisa denga melakukan perhitungan satu persatu akan membutuhkanwaktu yang sangat lama, biasanya metode ini digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vcegetasi kompleks lainnya

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah yang ingin diketahui pada praktikum ini adalah:

  1. Seperti apakah komposisi dan dominansi pohon di daerah yang diamati.
  2. Berapakah frekuensi dan kerapatan relatif dari vegetasi tersebut.
  3. Adakah keragaman / diversitas di daerah itu.

1.3 Maksud, Tujuan dan Kegunaan Praktikum

Maksud dari praktikum ini adalah ingin mengetahui komposisi dan dominansi suatu spesies serta struktur komunitas di suatu daerah.

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami dan mempraktekan metode kuarter ini dengan baik di lapangan.

Kegunaan praktikum ini adalah dapat melatih mahasiswa untuk menganalisa struktur komunitas dan komposisi tumbuhan yang terdapat di suatu daerah.

1.4 Waktu dan Tempat

Praktikum analisis vegetasi dengan metode kuarter  dilakukan pada hari Selasa  tanggal 26 Oktober 2010 pada pukul 08.22 sampai 11.00 WIB di Arboretum Universitas Padjadjaran  dekat menara burung.

1.5 Metode Pengamatan

Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengumpulan data dengan metode kuadran.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Lokasi

Arboretum berasal dari bahasa latin arboreta (pohon) dan rium (tempat), dengan demikian arboretum merupakan tempat atau wilayah untuk menanam pohon. Arboretum Universitas Padjadjaran (UNPAD) tidak hanya menanam pohon tetapi juga terna, semak yang tumbuh di darat (terrestrial) maupun di lahan basah atau berair (aquatik) yang ditujukan sebagai koleksi dan konservasi tumbuhan,terutama tumbuhan langka Jawa Barat.

Arboretum seluas 12,5 ha merupakan suatu model yang kompleks. Wilayah arboretum terbagi dalam beberapa ekosistem yaitu ekosistem kolam, sawah, kebun, ladang dan hutan.

Arboretum terbagi ke dalam beberapa zona, diantaranya zona tanaman obat, tanaman langka, tanaman jati diri, tanaman bahan bangunan daan zona budidaya.

2.2 Tinjauan Umum

Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.

Prinsip penentuan ukuran petak adalah petak harus cukup besar agar individu jenis yang ada dalam contoh dapat mewakili komunitas, tetapi harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan, dihitung dan diukur tanpa duplikasi atau pengabaian. Karena titik berat analisa vegetasi terletak pada komposisi jenis dan jika kita tidak bisa menentukan luas petak contoh yang kita anggap dapat mewakili komunitas tersebut, maka dapat menggunakan teknik

Kurva Spesies Area (KSA). Dengan menggunakan kurva ini, maka dapat ditetapkan : (1) luas minimum suatu petak yang dapat mewakili habitat yang akan diukur, (2) jumlah minimal petak ukur agar hasilnya mewakili keadaan tegakan atau panjang jalur yang mewakili jika menggunakan metode jalur ( Marpaung andre, 2009).

Beberapa sifat yang terdapat pada individu tumbuhan dalam membentuk populasinya, dimana sifat – sifatnya bila di analisa akan menolong dalam menentukan struktur komunitas. Sifat – sifat individu ini dapat dibagi atas dua kelompok besar, dimana dalam analisanya akan memberikan data yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Analisa kuantitatif meliputi : distribusi tumbuhan (frekuensi), kerapatan (density), atau banyaknya (abudance).

Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat sifat itu adalah  (Dedy 2010) :

  1. Ukuran petak.
  2. Bentuk petak.
  3. Jumlah petak.
  4. Cara meletakkan petak di lapangan.

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis (Marsono, 1977).

Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan sesuatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari tumbuh-tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penvusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan.

Jika berbicara mengenai vegetasi, kita tidak bisa terlepas dari komponen penyusun vegetasi itu sendiri dan komponen tersebutlah yang menjadi fokus dalam pengukuran vegetasi. Komponen tumbuh-tumbuhan penyusun suatu vegetasi umumnya terdiri dari (Andre, 2009) :

- Belukar (Shrub) : Tumbuhan yang memiliki kayu yang cukup besar, dan memiliki tangkai yang terbagi menjadi banyak subtangkai.

- Epifit (Epiphyte) : Tumbuhan yang hidup dipermukaan tumbuhan lain (biasanya pohon dan palma). Epifit mungkin hidup sebagai parasit atau hemi-parasit.

- Paku-pakuan (Fern) : Tumbuhan tanpa bunga atau tangkai, biasanya memiliki rhizoma seperti akar dan berkayu, dimana pada rhizoma tersebut keluar tangkai daun.

- Palma (Palm) : Tumbuhan yang tangkainya menyerupai kayu, lurus dan biasanya tinggi; tidak bercabang sampai daun pertama. Daun lebih panjang dari 1 meter dan biasanya terbagi dalam banyak anak daun.

- Pemanjat (Climber) : Tumbuhan seperti kayu atau berumput yang tidak berdiri sendiri namun merambat atau memanjat untuk penyokongnya seperti kayu atau belukar.

- Terna (Herb) : Tumbuhan yang merambat ditanah, namun tidak menyerupai rumput. Daunnya tidak panjang dan lurus, biasanya memiliki bunga yang menyolok, tingginya tidak lebih dari 2 meter dan memiliki tangkai lembut yang kadang-kadang keras.

- Pohon (Tree) : Tumbuhan yang memiliki kayu besar, tinggi dan memiliki satu batang atau tangkai utama dengan ukuran diameter lebih dari 20 cm.

Untuk tingkat pohon dapat dibagi lagi menurut tingkat permudaannya, yaitu :

- Semai (Seedling) : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan kurang dari 1.5 m.

- Pancang (Sapling) : Permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.

- Tiang (Poles) : Pohon muda berdiameter 10 cm sampai kurang dari 20 cm.

Sedikit berbeda dengan inventarisasi hutan yang titik beratnya terletak pada komposisi jenis pohon. Perbedaan ini akan mempengaruhi cara sampling. Dari segi floristis-ekologis “random-sampling” hanya mungkin digunakan apabila langan dan vegetasinya homogen, misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai “systimatic sampling”, bahkan “purposive sampling” pun boleh digunakan pada keadaan tertentu (Irwanto, 2010).

Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan (Simanung, 2009).

Dalam analisa vegetasi ini terdapat banyak ragam metode analisa diantaranya yaitu:

1. Dengan cara petak tunggal

2. Dengan cara petak berganda

3. Dengan cara jalur (Transek) dengan cara garis berpetak

4. Dengan cara-cara tanpa petak

Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadran (Simanung, 2009).

- Metode Kuadran

Pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya.

Ada dua macam metode yang umum digunakan (Simanung, 2009) :

a. Point-quarter

Yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.

b. Wandering-quarter

Yaitu suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal pengukuran. Dengan menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90) yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan danjarak satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran. Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif .

Adapun parameter vegetasi yang diukur dilapangan secara langsung adalah (Andre, 2009) :

1)    Nama jenis (lokal atau botanis)

2)    Jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan

3)    Penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap lahan

4)    Diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk menghitung volume pohon.

5)    Tinggi pohon, baik tinggi total (TT) maupun tinggi bebas cabang (TBC), penting untuk mengetahui stratifikasi dan bersama diameter batang dapat diketahui ditaksir ukuran volume pohon.

Hasil pengukuran lapangan dilakukan dianalisis data untuk mengetahui kondisi kawasan yang diukur secara kuantitatif. Beberapa rumus yang penting diperhatikan dalam menghitung hasil analisa vegetasi, yaitu (Gapala, 2010) ;

1.    kerapatan (Density)

Banyaknya (abudance) merupakan jumlah individu dari satu jenis pohon dan tumbuhanlain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung.Secara kualitatif kualitatif dibedakan menjadi jarang terdapat ,kadang-kadang terdapat,sering terdapat dan banyak sekali terdapat jumlah individu yang dinyatakan dalam persatuan ruang disebut kerapatan yang umunya dinyatakan sebagai jumlah individu,atau biosmas populasi persatuan areal atau volume,missal 200 pohon per Ha

2.    Dominasi

Dominasi dapat diartikan sebagai penguasaan dari satu jenis terhadap jenis lain (bisa dalam hal ruang ,cahaya danlainnya),sehingga dominasi dapat dinyatakan dalam besaran:

a)    Banyaknya Individu (abudance)dan kerapatan (density)

b)    persen penutupan (cover percentage) dan luas bidang dasar(LBD)/Basal area(BA)

c)    Volume

d)    Biomas

e)    Indek nilai penting(importance value-IV)

Kesempatan ini besaran dominan yang digunakan adalh LBH dengan pertimbangan lebih mudah dan cepat,yaitu dengan melakukan pengukuran diameter pohon pada ketinggian setinggi dada (diameter breas heigt-dbh)

3.    Frekuensi

Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagimana pola penyebaran suatu jenis,apakah menyebar keseluruh kawasan atau kelompok.Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan.

Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm lima kelas berdasarkan besarnya persentase,yaitu:

  • Kelas A dalam frekuensi 01 –20 %
  • Kelas B dalam frekuensi 21-40 %
  • Kelas C dalm frekuensi 41-60%
  • Kelas D dalam frekuensi 61-80 %
  • Kelas E dalam frekuensi 81-100%

4.    Indek Nilai Penting(importance value Indeks)

Merupakan gambaran lengkap mengenai karakter sosiologi suatu spesies dalam komunitas(Contis dan Mc Intosh, 1951) dalam Shukla dan chandel (1977).Nilainya diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif, dominasi relaif dan frekuensi relatif,sehingga jumlah maksimalnya 300%.

Praktik analisis vegetasi sangat ditunjang oleh kemampuan mengenai jenis tumbuhan (nama). Kelemahan ini dapat diperkecil dengan mengajak pengenal pohon atau dengan membuat herbarium maupun foto yang nantinya dapat diruntut dengan buku pedoman atau dinyatakan keahlian pengenal pohon setempat,ataupundapat langsung berhubungan dengan lembaga Biologi Nasional Bogor.

Analisis vegetasi dapat dilanjutkan untuk menentukan indeks keanekaragaman ,indeks kesamaan, indeks asosiasi, kesalihan, dll, yang dapat banyak memberikan informasi dalam pengolahan suatu kawasan, penilaian suatu kawasan. Data penunjang seperti tinggi tempat, pH tanah warna tanah, tekstur tanah dll diperlukan untuk membantu dalam menginterpretasikan hasil analisis.

Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif komunitas vegetasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu :

1. Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda.

2. Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal.

3. Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith, 1983).

Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petak-petak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1974) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak. Pola komunitas dianalisis dengan metode ordinasi yang menurut Dombois dan E1lenberg (1974) pengambilan sampel plot dapat dilakukan dengan random, sistematik atau secara subyektif atau faktor gradien lingkungan tertentu.

Untuk memperoleh informasi vegetasi secara obyektif digunakan metode ordinasi dengan menderetkan contoh-contoh (releve) berdasar koefisien ketidaksamaan (Marsono, 1987). Variasi dalam releve merupakan dasar untuk mencari pola vegetasinya. Dengan ordinasi diperoleh releve vegetasi dalam bentuk model geometrik yang sedemikian rupa sehingga releve yang paling serupa mendasarkan komposisi spesies beserta kelimpahannya akan rnempunyai posisi yang saling berdekatan, sedangkan releve yang berbeda akan saling berjauhan. Ordinasi dapat pula digunakan untuk menghubungkan pola sebaran jenis jenis dengan perubahan faktor lingkungan.

Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadran.

Metode Kuadran

Pada umumnya dilakukan jika hanya vegetasi tingkat pohon saja yang menjadi bahan penelitian. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya.

Ada dua macam metode yang umum digunakan :-

a. Point-quarter

Yaitu metode yang penentuan titik-titik terlebih dahulu ditentukan disepanjanggaris transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.

b. Wandering-quarter

Yaitu suatu metode dengan cara membuat suatu garis transek dan menetapkan titik sebagai titik awal pengukuran. Dengan menggunakan kompas ditentukan satu kuadran (sudut 90°) yang berpusat pada titik awal tersebut dan membelah garis transek dengan dua sudut sama besar. Kemudian dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas penutupan danjarak satu pohon terdekat dengan titik pusat kuadran (Soegianto, 1994). Penarikan contoh sampling dengan metode-metode diatas umumnya digunakan pada penelitian-penelitian yang bersifat kuantitatif.

Analisis vegetasi hutan Lindung Aek nauli dalam kegiatan P3H dilakukan dengan metoda kombinasi antara metoda jalur dan metoda garis berpetak dengan panjang jalur minimum adalah 12.500 m yang bisa terdiri dari beberapa jalur, tergantung kondisi di lapangan. Di dalam metoda ini risalah pohon dilakukan dengan metoda jalur dan permudaan dengan metoda garis berpetak (Onrizal & Kusmana, 2005).

Ukuran permudaan yang digunakan dalam kegiatan analisis vegetasi hutan adalah sebagai berikut:

a. Semai : Permudaan mulai dari kecambah sampai anakan setinggi kurang dari 1,5 m.

b. Pancang : Permudaan dengan tinggi 1,5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm.

c.  Pohon : Pohon berdiameter 10 cm atau lebih.

d. Tumbuhan bawah : Tumbuhan selain permudaan pohon, misal rumput, herba dan aaaaaaaaaaaaaaaaaaa semak belukar.

Selanjutnya ukuran sub-petak untuk setiap tingkat permudaan adalah sebagai berikut:

(a) Semai dan tumbuhan bawah : 2 x 2 m.

(b) Pancang : 5 x 5 m.

(c) Pohon : 10 x 10 m.

Menurut Weaver dan Clements (1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Ukuran tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang atau lingkaran.

Metode kuadrat juga ada beberapa jenis:

a. Liat quadrat: Spesies di luar petak sampel dicatat.

b. Count/list count quadrat: Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada beberapa batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar spesies yang ada di daerah yang diselidiki.

c. Cover quadrat (basal area kuadrat): Penutupan relatif dicatat, jadi persentase tanah yag tertutup vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area (penutupan relatif) yang diperlukan tiap-tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari vegetasi merupakan penjumlahan basal area dari beberapa jenis tanaman. Cara umum untuk mengetahui basal area pohon dapat dengan mengukur diameter pohon pada tinggi 1,375 meter (setinggi dada).

d. Chart quadrat: Penggambaran letak/bentuk tumbuhan disebut Pantograf. Metode ini ter-utama berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan menentukan letak tiap- tiap spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat yang digunakan pantograf dan planimeter. Pantograf diperlengkapi dengan lengan pantograf. Planimeter merupakan alat yang dipakai dalam pantograf yaitu alat otomatis mencatat ukuran suatu luas bila batas-batasnya diikuti dengan jarumnya (Wahyu,2009).

BAB III

METODOLOGI

3.1. Metode Umum

Metode yang digunakan yaitu metode titik pusat kuarter (point centre of quarter method): analisa vegetasi tumbuhan dengan mengukur diameter batang pohon yang terdekat dengan titik pusat pengamatan. Tumbuhan yang diukur tidak hanya pohon, tetapi juga tiang, pancang, dan semai.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan pada praktikum kali ini adalah teknik survey yaitu dengan mencari lokasi yang mewakili komposisi tumbuhan yang ada di suatu daerah, sedangkan pengumpulan data digunakan metode kuarter.

Seperti cara Bitterlich, dibuat dulu garis kompas. Pada tiap titik pengamatan (pengukuran) dibuat garis-garis kuadran. Dari tiap kuadran didaftarkan dan diukur satu pohin yang terdekat dengan titik pengukuran dan diukur jaraknya masing-masing ke titik pengukuran.

3.3. Alat dan Bahan

  • Patok berfungsi untuk menandai daerah pengamatan.
  • Tali rapia berfungsi untuk  membatasi garis transek.
  • Kompas berfungsi untuk menentukan arah garis transek.
  • Meteran berfungsi untuk mengukur lebar plot, panjang garis transek dan mengukur keliling batang pohon.
  • Alat tulis berfungsi untuk mencatat data yang diperoleh.

3.4  Prosedur Pengumpulan Data

1. Bidiklah arah tertentu dengan menggunakan kompas untuk mebuat transek.

2. Garis transek dibuat sepanjang 30 meter untuk setiap kelompok kemudian ditentukan titik pusat pengamatan tiap 10 meter.

3. Tentukan pohon yang terdekat dari titik pusat sesuai dengan arah mata angin dari keempat penjuru.

4. Jarak pohon ke titik pusat diukur, dan diameter pohon tersebut dihitung berdasarkan data keliling batang pohon yang telah diukur setinggi dada.

5. Kemudian tabulasi data dibuat, dan dianalisis.

3.4. Analisis Data

3.4.1. Analisis Data Lapangan

Dari hasil pengukuran, diperoleh besaran-besaran sebagai berikut:

Jarak pohon rata-rata (d) = d1 + d2 + d3 +………….+ dn

n

d1, d2, ….., dn  = jarak masing-masing

n                        =  banyaknya pohon

Kerapatan seluruh jenis =       Luas

(jarak pohon rata-rata)²

Kerapatan mutlak =  Jumlah pohon suatu jenis x  Kerapatan dalam luas area yang

Jumlah pohon semua jenis                 ditentukan

Kerapatan relative (%) = Jumlah pohon suatu jenis x   100%

Jumlah pohon semua jenis

Dominansi mutlak = Rata-rata basal area tiap jenis x kerapatan mutlak tiap jenis

Dominanasi relative (%) = Dominansi mutlak suatu jenis x  100 %

Jumlah total dominansi mutlak

Basal area dihitung dari tiap diameter pohon, kemudian menggunakan rumus:

Basal area  =  pr² atau ¼pD²

Keterangan :   r    = jari-jari pohon

D  = diameter batang pohon

p  =  3,14

Frekuensi = Jumlah plot ditemukannya suatu jenis

Jumlah seluruh plot

Frekuensi relative  =  Frekuensi dari suatu jenis x   100%

Frekuensi seluruh jenis

Nilai penting = Kr + Dr + Fr

3.4.2. Analisis Perkiraan, Korelasi, Evaluasi Data

Dari data yng diperoleh, dapat dianalisis struktur komunitasnya dengan menggunakan indeks kesamaan, indeks keragaman, dan Evenness.

Untuk mengetahui indeks kesamaan komunitas dipergunakan rumus dari Sorensen berikut ini  :

ISs = 2c x  100%

a+b

Keteranagn :   ISs = Indeks kesamaan

a = Jumlah jenis pada lokasi  pertama

b = Jumlah jenis pada lokasi kedua

c = Jumlah jenis yang ada pada kedua lokasi

Jika nilai ISs > 50%, maka pada daerah tersebut memiliki kesamaan komunitas.

Jika nilai ISs < 50%, maka pada daerah tersebut ada perbedaan komunitas atau bahkan tidak memiliki kesamaan komunitas.

Untuk mengetahui diversitas jenis di suatu daerah digunakan rumus:

ID = 100 % – ISs

H’ = -∑ pi log pi

Dimana,          pi = ni/ N

Pi =  perbandingan antara jumlah individu spesies ke-I dengan jumlah   total individu

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

Tanggal           : 26 Oktober 2010

Waktu              : 08.22 – selesai

Lokasi              : Arboretum Unpad dekat menara burung

Koordinat         :  Garis lintang     6°55’41.83″S

Garis bujur 107°46’18.43″T

Tabel 4.1.1 Analisis Vegetasi dengan metode kuadran

No Titik Kuarter Titik Kuadran Nama spesies Jarak pengamat ke pohon (m) Diameter pohon (m )
1 1 Tectona grandis 10,4 0,1848
2 1 2 Tectona grandis 8 0,4458
3 3 Citrus maxima 5,7 0,1146
4 4 Syzigium cuminii 8,86 0,452
5 1 Tectona grandis 8 0,1201
6 2 2 Tectona grandis 6,8 0,2101
7 3 Arthocarpus integra 7 0,1433
8 4 Delonix regia 9 0,2707
9 1 Sp A 13,40 0,0637
10 3 2 Tectona garndis 3,5 0,2182
11 3 Tectona grandis 6,3 0,2182
12 4 Tectona grandis 2,5 0,2070 

 

Tabel 4.1.2 Analisis Data

No Nama spesies Rata-rata d BA KM Rata-rata jarak Kerapatan DM FM KR (%) DR (%) FR (%) INP
1 Tectona grandis 0,2292 0,041 0,583 0,0239 1 58,41 27,28 37,74
2 Citrus maxima 0,1146 0,01 0,083 8,3×10-4 0,33 8,31 0,95 12,45
3 Syzigium cuminii 0,452 0,16 0,083 7,455 13,41 0,01328 0,33 8,31 15,16 12,45 299,93
4 Arthocarpus integra 0,1433 0,016 0,083 1,328×10-3 0,33 8,31 1,52 12,45
5 Delonix regia 0,2707 0,58 0,083 0,048 0,33 8,31 54,79 12,45
6 Sp A 0,0637 0,003 0,083 2,49×10-4 0,33 8,31 0,28 12,45
Total 1,274 0,81 0,998 7,455 13,41 0,0876 2,65 99,96 99,98 99,99 299,93

Indeks Kesamaan Sorensen

Iss  =

=  = 36,36%

Indeks Diversitas

ID = 100%- Iss

= 100%- 36,36%

= 63,64%

Indeks Shannon wiener

HI = -

HI = – (-1,349)

= 1,349

4.2 PEMBAHASAN

Praktikum ini mengenai analisis vegetasi dengan metode kuadran dimana pada metode ini menggunakan titik kuarter untuk menghitung jarak dari pengamat ke pohon. Metode ini biasa digunakan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya.

Praktikum ini dilaksanakan tanggal 26 oktober 2010 pada pukul 08.22 WIB dengan kondisi cuaca cerah. Praktikum ini bertujuan  supaya mahasiswa dapat memahami dan mempraktikan metode kuartaer ini dengan baik di lapangan. Tiap kelompok mendapat tansek sepanjang 30 m. Transek tersebut dibagi menjadi 3 buah kuarter dengan tiap plot berjarak 10 m. Di tiap titik pusat plot tersebut dibuat garis khayal sehingga membagi plot menjadi 3 kuarter, pada masing-masing kurter terdapat 4 kuadran. Dalam satu kuadran hanya didaftarkan satu jenis dari vegetasi pohon (termasuk didalamnya kategori semai, pancang, tiang dan pohon), yang jaraknya paling dekat dengan titik pusat kuadran.

I   II                                         I    II                                        I    II                                        I   II

Kuarter 1                                Kuarter 2                                  Kuarter 3

IV  III                                        IV  III                                        IV  III                                     IV  III

Karena metode kuadran ini merupakan metode plot less method, yang berarti Metode ini merupakan salah satu metode yang tidak memerlukan luas tempat pengambilan contoh atau suatu luas kuadrat tertentu. Oleh karena itu, bila dalam suatu kuadran dalam jarak yang dekat tidak terlihat adanya suatu vegetasi pohon, maka pencarian bisa diteruskan sejauh mungkin sampai ditemukan jenis pohon yang  dimaksud, tetapi pohon tersebut masih berada di dalam daerah kuadran tersebut.

Cara ini  terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).

Titik pusat kuadran adalah titik yang membatasi garis transek setiap jarak 10 m. Dari ketiga plot tersebut dapat diketahui ada spesies dominan seperti Tectona grandis karena jenis spesies tersebut terdapat hampir di setiap plot.

Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa FR terbesar ada pada jenis jati (Tectona grandis) dengan nilai 37,74 %. Nilai ini menunjukkan bahwa jati (Tectona grandis) memiliki kehadiran yang tinggi di tiap plot dibandingkan dengan spesies yang lainnya di mana jati di temukan di titik kuarter 1, 2, dan 3. KR terbesar ada pada jenis jati (Tectona grandis) dengan nilai 58,41 % . nilai ini menunjukkan bahwa jati memiliki kerapatan yang tinggi bila dibandingkan dengan spesies yang lainnya. Sedangkan nilai DR terbesar ada pada flamboyan (Delonix regia) dengan nilai sebesar 54,79 %. Nilai ini menunjukkan penutupan tajuknya besar. Sedangkan nilai INP nya adalah 299,93. Indeks Kesamaan Sorensen memiliki nilai 36,36% (< 50%), maka  lokasi tersebut memiliki komunitas berbeda atau vegetasi penyusun pada masing-masing lokasi beragam. Sedangkan indeks diversitasnya adalah 63,64%, nilai ini menunjukan keragaman yang tinggi.

Spesies Syzigium cuminii dan Tectona grandis kuarter 1 kuadran 2 termasuk kategori pohon dewasa karena memiliki diameter lebih dari 35 cm, spesies  Tectona grandis di kuarter dan kuadran lainnya, Citrus maxima, Delonix regia, Arthocarpus integra termasuk kategori tiang, yaitu pohon dengan diameter antara 10-35 cm, dan spesies A termasuk kategori pancang (sampling) .

Bentuk kehidupan dari spesies tumbuhan biasanya memiliki karakteristik yang tetap. Namun spesies yang sama dapat menerima bentuk kehidupan yang berbeda ketika tumbuh dibawah kondisi lingkungan yang berbeda. Vegetasi dapat diklasifikasikan kedalam struktur tanpa menunjuk pada nama spesies. Ini telah dibuktikan terutama dalam floristik lokasi yang belum dijamah, dan dalam lokasi dimana vegetasi tidak dapat diklasifikasikan dengan mudah dengan spesies yang dominan. Ketinggian tumbuhan digunakan sebagai kriteria dalam klasifikasi bentuk kehidupan. Walaupun, berbagai bentuk kehidupan dapat memberikan pemikiran khusus dari stratifikasi atau pelapisan dalam komunitas.

Arboretum bukan merupakan ekosistem alami, melainkan ekosistem semi atau buatan sehingga ada campur tangan manusia yang menyebabkan tumbuhan dalam arboretum tersebut beragam (heterogen). Walaupun pada awalnya penanaman pohon di arboretum dilakukan secara merata menurut komunitas yang akan diciptakan. Ternyata bila dianalisis secara vertical, strata atau penyebaran kanopi tidak merata kerapatannya. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi kompetisi antar species tumbuhan di arboretum (selain oleh kerusakan manusia) dalam memperoleh sinar matahari, air dan nutrisi-nutrisi yang ada dalam tanah.

KESIMPULAN

1.    Komposisi  vegetasi  tumbuhan dari Analisis vegetasi dengan metode kuadran adalah Tectona grandis. Citrus maxima,Sizygium cuminii,Delonix regia, Arthocarpus integra dan Sp A. sedangkan dominansinya adalah Tectona grandis.

2.    Frekuensi relatif total dari vegetasi tersebut adalah 99,99 % sedangkan kerapatan relativ total dari vegetasi tersebut adalah 99,96%.

3. Terdapat keragamannya dilihat dari nilai Iss ( indeks kesamaan sorensen ) sebesar 36,36%  yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut memiliki komunitas berbeda atau vegetasi penyusun pada masing-masing lokasi beragam.

DAFTAR PUSTAKA

Ande marpaung. 2009. http://boymarpaung.wordpress.com/2009/04/20/apa-dan- bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/ diakses tanggal 9 november 2010

Andre.2009.Apa dan Bagaimana Mempelajari Analisa Vegetasi.http://boymarpaung.wordpress.com/ 2009/04/20/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisa-vegetasi/. Diakses pada 8 November 2010.

Dedy 2010 http://dydear.multiply.com/journal/item/15/Analisa_Vegetasi diakses tanggal 9 aaaaaanovember 2010

Michael, M. 1992. Ekologi Umum. Jakarta: Universitas Indonesia.

Polunin, N. 1990. Ilmu Lingkungan dan Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Simanung. 2009.Analisis Vegetasi. http://bpkaeknauli.org/index.php?option=comcontent&task=view&id =18&Itemid=5 Diakses pada 8 November 2010.

Swanarmo, H, dkk. 1996. Pengantar Ilmu Lingkungan. Malang: Universitas   Muhammadyah.

Wahyu, Ikhsan. 2009. Analisis Vegetasi. http://biologi08share.blogspot.com/2009_04_01_ archive.html. Diakses pada 22 Oktober 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.